Showing posts with label kampus. Show all posts
Showing posts with label kampus. Show all posts

Wednesday, 20 November 2013

Kala Tawuran Sudah Menjadi Kesenangan

Miris melihat kampus UNM sektor Parangtambung kembali bergolak. Hasilnya dapat dipastikan kerusakan dimana-mana, baik fasilitas kampus maupun properti pribadi mahasiswa. Korban bukan hanya mahasiswa bertikai namun semua manusia di bawah almamater ‘kampus orange’ ikut menanggung tingkah laku mereka.
Selama ini perselisihan antar mahasiswa memang selalu berakhir dengan jalan adu jotos. Lempar batu. Saling menghancurkan kampus. Kemudian kampus libur. Setelah libur maka kondisi seperti sedia kala seperti tak pernah terjadi apa-apa.

Tawuran memang sudah menjadi budaya. Hingga tak afdal rasanya jika perselisihan itu tak diluapkan secara bersama-sama. Ada doktrin yang tertanam di kampus, “kalau kamu menyakiti saudaraku maka aku juga merasa sakit.” Inilah mungkin yang dimaksud solidaritas antar mereka. Tak peduli efek yang akan terjadi.

Pakar Psikologi Erich Fromm (1900-1980) menganggap konflik dan tawuran adalah sesuatu yang menyenangkan. Memang sangat memuaskan setelah melepas amarah meski itu bukan orang yang dimaksud langsung. Yang penting pelampiasan amarah itu telah menyentuh simbol. Baik itu temannya, nama institusinya, tempat orang yang dianggap musuh bernaung.

Lihatlah perkelahian kemarin di Parangtambung. Pihak berwajib tak mendapatkan ‘otak’ pelaku sebenarnya. Pimpinan kampus hanya mendapati gedung yang hancur. Motor yang tak berbentuk lagi. Orang lain yang terluka. Semua ini hanya simbol. Pelaku tawuran tak melihat lagi sesuatu dari perspektif benar atau salah. Hanya tahu menghantam dan mengahancurkan.

Bukankah aksi tawuran selama ini hanya membuat persoalan semakin membesar. Bahkan tawuran telah memberikan sejarah kelam. Sudah ada orang yang meninggal. Lalu kenapa hal ini terus terjadi?

Pemuja Kekerasan

Orang-orang yang suka menyelesaikan masalah dengan kekerasan sampai akhirnya akan mengidap nekrofilia. Penyakit ini akan membawa seseorang untuk memuja kekerasan. Semua permasalahan antar sesama selalu diselesaikan dengan cara kekerasan ini. Hingga ada slogan mengatakan “Hiduplah Kematian”. Lihatlah teriakan-terikan pelaku tawuran. Semua mengarahkan ingin membunuh dan menghancurkan.

Erich Fromm dalam tulisannya , Creators and Destroyers (1964), nekrofilia yang bermakna ”mencintai kematian”. “Siapakah orang yang bercorak nekrofilik?” tanya Fromm. Dia adalah orang yang terpesona oleh semua yang bukan kehidupan, yakni kematian, jenazah, kerusakan, dan kekotoran. Orang yang dikuasai nekrofilia amat suka berbicara tentang kesakitan, kerusakan, dan kematian.

Penyakit ini bisa dikembangbiakkan kepada generasi mendatang dengan mengabarkan berita buruk tentang kelompok atau simbol yang dianggap musuh. Bisa melalui doktrin dari senior ke junior. Bahkan penyakit ini telah menyentuh dan merasuki pejabat yang tega melihat rakyatnya (baca:mahasiswa) terluntah-luntah. Berada dalam kondisi bahaya. Tak tenang.

Ingat! peristiwa ini telah berlangsung puluhan tahun lamanya. Namun solusi yang ditawarkan selalu tak tepat sasaran. Orang-orang yang memimpin belum berpikir luas. Semua berpikir rata-rata. Seperti kata mantan presiden Amerika Serikat Eleanor Roosevelt. Pemikiran orang itu dibedakan menjadi tiga macam. Pertama orang yang berpikir sempit yang sering membicarakan orang-orang. Kedua pikiran rata-rata yang sering membicaran peristiwa. Dan terakhir orang berpikir luas yakni selalu membicarakan gagasan dan solusi. Solusi yang ditawarkan hanya berlangsung sementara.

Semoga kampus UNM diberkahi oleh Tuhan. Sehingga sang maha bijaksana mengirim orang yang sehat dan kebal terhadap penyakit nekrofilia untuk menyelesaikan dan membasmi pemuja kekerasan di bumi kampus pencetak guru ini. Amin. (*)

Penulis: MH Arfah Alumnus Jurusan Biologi FMIPA UNM
Share:

Monday, 4 July 2011

RUBAH PARADIGMA PMB

Senior dan junior bagusnya …
Dunia kampus tidak terlepas dari pengakuan status yang selalu disematkan kepada mahasiswa. Bagi yang lebih dahulu mengenal asam garam jadi mahasiswa, umumnya menempatkan diri sebagai senior berposisi sebagai pihak yang lebih berpengalaman. Sebaliknya yang baru menyandang status mahasiswa atau lebih popular dengan maba, ditempatkan dengan status sebagai junior.
Perbedaan status ini kadang mengundang gesekan. Nah untuk mengubah paradigm status senioritas atau junioritas, alangkah baiknya jika masing-masing menempatkan peran masing-masing menempatkan peran dan fungsi sebagaimana mestinya. Kalau jadi senior, alangkah baiknya memahami peran sebagai berikut.
1. Citra dan teladan
Seorang senior yang asyik adalah senior yang punya citra positif di arena PMB maupun di luar. Artinya mampu member contoh, teladan bagi adik-adiknya (juniornya). Ini juga berlaku bagi senior yang tidak masuk jadi panitia PMB. Tidak perlu risau kalau merasa tidak keren. Yang penting ditunjukkan dihadapan junior adalah sikap bukang sekedar tampang.
2. Tidak perlu galak atau jutek
Seorang yang jadi panitia PMB biasanya ada yang benar-benar galak atau pura-pura galak. Biasanya sikap galak dan bentakan-bentakan itu Cuma buat menggeretak. Ada hal yang perlu diketahui adalah, senior yang ramah lebih disukai. Tapi mesti yang alami bukan pura-pura. Kalaupun harus marah, marahlah yang memang pantas dan tidak perlu mengeluarkan kata-kata yang kotor dan kasar.
3. Berwawasan luas
Ini penting. Untuk mewujudkan PMB yang mendidik, yang mencerdaskan dan memberi, senior yang member wawasan pada junior, senior mesti mempunyai sesuatu yang lebih. Wawasan yang luas akan membuat senior tampil lebih berwibawa dihadapan para peserta PMB. Karena senior menjadi tempatnya bertanyya dan transfer ilmu.
Share:

Kepedulian Anak UNM Terhadap Kebersihan Kampus

Bagi kampus, suasana lingkungan yang diidamkan adalah kondisi yang sejuk dan nyaman. Teduh di siang hari karena rimbunnya naungan pepohonan, lingkungan yang hijau oleh dedaunan serta penataan gedung-gedung perkuliahan yang apik nan resik. Namun, lingkungan kampus yang demikian rupanya belum dapat dirasakan di Universitas Negeri Makassar, khususnya Fakultas MIPA. Cobalah lihat sekeliling kampus kita! Hal yang pertama dibidik adalah mengenai kebersihan kampus. Masih banyak sekali sampah bertaburan di sekitar kita, padahal fasilitas akan tempat sampah telah terpenuhi di setiap sudut ruangan kampus. Sedangkan “kebersihan adalah sebagian dari iman” dan “kebersihan adalah pangkal kesehatan”. Tetap saja karyawan, dosen, maupun mahasiswa ogah-ogahan membuang “empunya” pada tempatnya. Seakan-akan tempat sampah hanya sekedar pemanis ruangan dan formalitas saja.
Saat ini Indonesia sedang mengalami pergantian musim dari musim kemarau yang panas ke musim penghujan. Itu artinya, bila kebersihan lingkungan tidak segera diperhatikan, maka penyakit seperti kasus Demam Berdarah tentunya tak dapat dielakkan lagi. Kampus merupakan salah satu tempat perindukan nyamuk aides untuk daerah perkotaan karena kampus memiliki banyak bak penampungan yang berisi air dan belum tentu dilakukan pengurasan secara regular pada setiap minggunya oleh petugas kebersihan. Selain itu, breeding place nyamuk aides adalah pohon, bunga, kaleng dan plastic-plastik yang bisa menampung air.
Share:

Monday, 28 March 2011

5 Tips mencari tempat inspirasi untuk menulis

Tampat menulis juga merupakan faktor penentu bagus tidanya sebuah tulisan. Ketika kita menulis ditempat yang kita senangi pikiran akan terbuka luas. Karena itu ada baiknya jika anda mencari tempat-tempat inspirasi anda.


***TIPS***




— carilah sebuah tempat yagn nyaman menurut anda.
— usahakan jangan tempat yang tertutup.
— tempat terbuka akan membuat pikiran anda juga terbuka.
— sekali-kali pergi ke keramaian untuk mencari inspirasi.
— carilah tempat sebanyak-banyaknya, karena kita akan mudah bosan


***HIKMAH***




Tempat yang indah akan membuat pikiran jadi indah. Dan segala yang diperbuat menjadi baik


.
.
Ditulis oleh http://menulis-t-aft.blogspot.com/2009/09/cari-menjadi-tempat-inspirasi-menulis.html.
Share:

Musyawarah Mahasiswa Biologi: Sebuah Pesta Demokrasi Mahasiswa

30 Desember, 2010


Apa yang ada di benak Anda ketika mendengar kata pesta? Suasana riang, ceria, penuh canda tawa atau sebuah euforia atas perasaan bebas dari tugas, ataupun masalah besar nan berat? Tentu di sini saya tidak punya hak memaksa mereka menghayati makna kata pesta
dengan arah persepsi yang anda miliki.


Namun kalau boleh sedikit dijabarkan makna tersebut, secara tersirat kata pesta merujuk kepada satu makna yang berarti sebuah aktivitas yang menggambarkan kegembiraan atas sebuah peristiwa yang baru terjadi. Lantas muncullah kata pesta demokrasi. Sebuah gabungan kata yang kemudian membuat saya sejenak memutar otak untuk mengurai makna di balik istilah yang sudah akrab di telinga rakyat tersebut.


Yang dimaksud pesta demokrasi disini , pastinya kita sudah tahu donk Trending Topic di Jurusan Biologi minggu ini. Yah tidak salah lagi pastinya pemilihan Ketua Umum HIMA Biologi untuk periode 2010-2011.
Share: